TUGAS AKHIR
ANALISIS NOVEL THE LOST SYMBOL
KARYA DAN BROWN DENGAN NOVEL BUMI MANUSIA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS
AKHIR MATA KULIAH SASTRA PERBANDINGAN
NAMA : SOFIYA
LARAS KENANGA
NIM : E1C115078
PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA
DAN DAERAH
PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2018
I.
CERITA SINGKAT KEDUA NOVEL
A.
THE LOST SYMBOL
The
Lost Symbol, adalah buku ketiga novelis Dan Brown yang melibatkan
karakter Robert Langdon, ahli simbol dari Universitas Harvard, setelah Angels & Demons dan The Da Vinci Code.
Ketika
akhirnya judul resminya diumumkan, The Lost Symbol, disertai tanggal rilisnya
pada 15 September 2009, kehebohan lain muncul. Kali ini yang heboh adalah
penerbit-penerbit dari seluruh pelosok dunia yang berkompetisi meraih rights
buku yang hampir pasti akan menjadi best seller di negara mana pun.
Pada
pemunculan perdananya, diterbitkan sebanyak 6.5 juta cetakan (5 juta di Amerika
Utara dan 1.5 juta di Inggris), terbesar dalam sejarah penerbitan buku. Pada
hari pertama penjualannya buku ini terjual sebanyak satu juta cetakan dalam
bentuk hardcover dan juga dalam bentuk versi e-book di Amerika Serikat, Inggris
dan Kanada, membuatnya buku yang tercepat terjual dalam sejarah.
Sebelumnya
novel ini akan diberi judul The Solomon Key, adalah sebuah novel yang
ditulis oleh novelis Amerika Serikat, Dan Brown. Buku ini menceritakan tentang
teori konspirasi, yang mengambil kisah di Washington DC. Robert Langdon kembali
menguak kode-kode rahasia. Kali ini, Langdon akan membongkar rahasia Freemason.
Robert Langdon
kembali dalam petualangan penuh teka-teki, rahasa perkumpulan kuno,
symbol-simbol keagamaan dan kekuasaan di masa lalu. Petualangan Robert Langdon
kali ini bertempat di ibukota Amerika Serikat yaitu Washington DC. Professor
dari Universitas Harvard ini mendapat undangan dari seorang sahabat lamanya yaitu
Peter Solomon, seorang anggota mason untuk memberikan ceramah di gedung tempat
anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan para senator merumuskan undang-undang yaitu
Gedung Capitol. Alih-alih memberikan ceramah, Robert Langdon harus berurusan
dengan seorang psikopat yang menculik Peter Solomon dan memberikannya teka-teki
untuk ditebus dengan nyawa sahabatnya tersebut. Disisi lain, adik dari Peter
Solomon yaitu Katherine, sedang mempelajari dan meneliti sesuatu yang dapat
mengubah dunia di Museum Smithsonian juga mendapat serangan dari penculik Peter
Solomon untuk menguasai penemuan Katherine yang luar biasa yang dikatakan dapat
mengubah dunia. Penculik Peter Solomon tidak main-main dengan nyawa Peter
Solomon, ia memberikan sebuah tangan kanan Peter Solomon yang berisi teka-teki
dan sebuah pesan bahwa satu-satunya orang yang dapat menyelamatkan Peter,
hanyalah Robert Langdon sendiri.
Kode-kode yang melindungi suatu tempat yang amat sangat
dirahasiakan oleh kelompok tersebut. Pencarian simbol yang hilang berupa
kata terakhir dari teka teki yang ada dalam Piramida milik Peter Solomon.
Piramida ini merupakan barang pusaka yang diwariskan turun temurun keluarga
Solomon. Piramida ini dipercaya sebagai peta untuk mendapatkan rahasia yang
sangat besar dan harta karun yang besar pula. Teka teki yang sangat rumit pada Piramida
dihubungkan dengan kelompok Mason yang penuh dengan misteri. Sebuah
rahasia, yang konon akan membuat pemiliknya mampu mengubah dunia!
Tentu saja tugas Langdon tidaklah
mudah, karena ia berhadapan dengan penjahat sadis yang tidak segan-segan
membunuh demi mendapatkan keinginananya. Keadaan bertambah sulit dengan adanya
campur tangan CIA, yang menganggap Langdon sebagai ancaman keamanan nasional.
Menyusuri lorong-lorong bahwa tanah Capitol dan tempat-tempat menakjubkan
lainnya sembari menghindari kejaran CIA, Langdon berusaha memecahkan kode
rahasia Mason. Sebelum tengah malam, Langdon sudah harus berhasil, karena jika
dia gagal, Peter Solomon akan dibunuh, dan sebuah rahasia yang konon akan
mengguncang Amerika Serikat, bahkan dunia, akan tersebar.
B.
BUMI MANUSIA
Bumi Manusia ini ditulis Pramoedya Ananta Toer ketika masih
mendekam di Pulau Buru. Sebelum ditulis pada tahun 1975, sejak tahun 1973 terlebih dahulu telah diceritakan
ulang kepada teman-temannya. Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta
Toer yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980.
Buku pertama
yang diterbitkan Hasta Mitra adalah Bumi Manusia (1980) karya Pramoedya. Buku
ini kemudian dilanjutkan Anak Semua Bangsa (1981). Keduanya laris di pasaran. Pada Juli l980 naskah Bumi Manusia dicetak oleh
percetakan Aga Press. Dua belas hari setelah keluar dari percetakan, 5.000
eksemplar habis terjual. Pada November 1980, cetakan ketiga Bumi Manusia
terjual l0 ribu eksemplar. Rekor penjualan yang banyak dan dalam waktu singkat
ini belum terpecahkan dalam sejarah penerbitan komersial di Indonesia. Penerbit
bahkan kewalahan melayani pesanan yang datang bukan hanya dari Indonesia, tapi
juga dari berbagai penjuru dunia. Bahkan ada yang sampai menunggu di luar
kantor percetakan dan kantor Hasta Mitra sekadar memastikan bahwa mereka tak
akan kehabisan Bumi Manusia. Hanya
beberapa bulan setelah Bumi Manusia
keluar, sejumlah penerbit di Hongkong, Malaysia, Belanda dan Australia mendekati Hasta Mitra untuk
mendapat hak terjemahan. Pramoedya sebagai penulis tetap mendapat royalti
sementara Hasta Mitra hanya bertindak sebagai perantara. Penerbit Wira Karya di
Malaysia membayar royalti sebesar 12% langsung kepada Pramoedya. Bumi
Manusia berhasil terjual sebanyak 60.000 eksemplar hanya dalam waktu enam bulan
dan Anak dicetak ulang tiga kali dalam waktu enam bulan.
Terjadi kehebohan setelah diterbitkannya Bumi Manusia yang kemudian dilarang
beredar setahun kemudian atas perintah Jaksa Agung tahun 1981, dengan tuduhan mempropagandakan ajaran-ajaran Marxisme, Leninisme, dan Komunisme, walaupun dalam buku ini tidak disebut-sebut sedikit pun
tentang ajaran-ajaran Marxisme, Leninisme, atau komunisme, yang disebut hanya Nasionalisme. Pada tanggal 29 Mei 1981, Jaksa Agung mengeluarkan SK-052/JA/5/1981 tentang
pelarangan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Dalam surat itu antara lain
disebutkan sepucuk surat dari Kopkamtib yang keluar seminggu sebelumnya, dan Rapat koordinasi Polkam tanggal 18 Mei 1981. Pelarangan itu sepenuhnya adalah keputusan politik dan
tidak ada kaitannya dengan nilai sastra, argumentasi ilmiah serta alasan-alasan
yang dikemukakan sebelumnya. Semua agen dan toko buku didatangi oleh Kejaksaan
Agung yang menyita semua eksemplar Bumi
Manusia dan Anak Semua Bangsa.
Beberapa di antaranya malah mengambil inisiatif menyerahkannya secara sukarela.
Tapi sampai Agustus 1981, hanya ada 972 eksemplar yang
diterima oleh Kejaksaan Agung, dari sekitar 20.000 eksemplar yang beredar. Sebelum
dilarang, buku ini sukses dengan 10 kali cetak ulang dalam setahun pada
1980-1981. Sampai tahun 2005, buku ini telah diterbitkan dalam 33 bahasa. Pada
September 2005, buku ini diterbitkan kembali di Indonesia oleh Lentera Dipantara.
Buku ini melingkupi masa kejadian
antara tahun 1898 hingga tahun 1918, masa ini adalah masa munculnya
pemikiran politik etis dan masa awal periode Kebangkitan Nasional. Masa ini juga menjadi awal
masuknya pemikiran rasional ke Hindia Belanda, masa awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern yang
juga merupakan awal kelahiran demokrasi pola Revolusi Perancis. Bumi Manusia berisikan sebuah cerita
tentang perlawanan kaum pribumi melawan kolonialisme belanda, mengisahkan zaman
setelah pemerintahan Belanda yaitu
Hindia-Belanda. Kehidupan di Indonesia dimana budaya dan peradaban Eropa
dieluk-elukkan sedangkan Pribumi hanya dianggap sebelah mata, diremehkan,
ditindas.
Buku ini bercerita tentang perjalanan
seorang tokoh bernama Minke. Minke adalah salah satu anak pribumi yang sekolah
di HBS. Pada masa itu, yang dapat masuk ke sekolah HBS adalah
orang-orang keturunan Eropa. Minke adalah seorang pribumi yang pandai, ia
sangat pandai menulis. Tulisannya bisa membuat orang sampai terkagum-kagum dan
dimuat di berbagai Koran Belanda pada saat itu. Sebagai seorang pribumi, ia
kurang disukai oleh siswa-siswi Eropa lainnya. Minke digambarkan sebagai
seorang revolusioner di buku ini. Ia berani melawan ketidakadilan yang terjadi
pada bangsanya. Ia juga berani memberontak terhadap kebudayaan Jawa, yang
membuatnya selalu di bawah.
Selain tokoh Minke, buku ini juga
menggambarkan seorang "Nyai" yang bernama Nyai Ontosoroh. Nyai pada saat itu
dianggap sebagai perempuan yang tidak memiliki norma kesusilaan karena
statusnya sebagai istri simpanan. Statusnya sebagai seorang Nyai telah
membuatnya sangat menderita, karena ia tidak memiliki hak asasi manusia yang
sepantasnya. Tetapi, yang menariknya adalah Nyai Ontosoroh sadar akan kondisi
tersebut sehingga dia berusaha keras dengan terus-menerus belajar, agar dapat
diakui sebagai seorang manusia. Nyai Ontosoroh berpendapat, untuk melawan
penghinaan, kebodohan, kemiskinan, dan sebagainya hanyalah dengan belajar.
Minke juga menjalin asmara dan akhirnya menikah dengan Annelies, anak dari Nyai
Ontosoroh dan tuan Mellema.
Pertemuan
kali pertama Minke dengan Annelies menjadi poin penting dalam novel ini. Kisah
cinta antara Minke dan Annelies mengalami sesuatu yang sangat memilukan, yaitu
karena Annelies anak dari seorang Gundik yang bernama Nyai Ontosoroh, akibatnya
perkawinan antara Nyai Ontosoroh dengan Herman Mellema tidak diakui pengadilan
tinggi belanda. Begitupun dengan pernikahan Minke dan Annelies tidak di akui
pengadilan belanda karena tidak ada ijin orang tua sah dari annelies, hak asuh
annelies diberikan kepada ibu tirinya di Belanda. Dan akhirnya secara terpaksa
Annelies harus angkat kaki dan pergi ke Belanda. Sementara Minke dan Nyai
Ontosoroh tidak tinggal diam melawan ketidakadilan pengadilan putih belanda,
minke dengan kepiawannya menulis pengaduan diberbagai media cetak telah
menyalakan api para pembacanya, pendukung Minke tidak hanya sekedar
kerabat-kerabatnya, kini seluruh masyarakat di wonokromo dan Madura ikut protes
terhadap ketidakadlilan belanda. Namun apalah yang bisa dilakukan oleh seorang
Pribumi terhadap pengadilan tinggi, semuanya tidak ada hasil. Annelies harus
pergi ke Belanda dan terpisah dari pangerannya Minke. Hal tersebut merubah
semua pemikiran minke yang semula pengagum belanda kini dia merasakan
ketidakadilan, penjajahan, diskriminasi belanda terhadap pribumi. Sebuah tindakan yang jauh dari rasa keadilan. Itulah yang disebabkan oleh para penjajah: perampasan kekayaan, pertentangan kelas dan penindasan.
II.
KAJIAN STRUKTURALISME
Pendekatan struktural dipelopori oleh
kaum Formalis Rusia dan Strukturalisme Puasa. Ia mendapat pengaruh langsung
dari teori Saussure yang mengubah studi linguistic dari pendekatan diakronik ke
sinkronik. Studi linguistik tidak lagi ditekankan pada sejarah perkembangannya,
melainkan pada hubungan antarunsurnya.
Masalah unsur dan hubungan antarunsur merupakan hal yang penting dalam
pendekatan ini. Unsur bahasa misalnya, terdiri dari unsur fonologi, morfologi,
dan sintaksis, maka dalam studi linguistic pun dikenal adanya studi fonetik,
fonemik, morfologi, dan sintaksis. Pembicaraan terhadap salah satu aspek tersebut
tak dibenarkan untuk dikaitkan dengan aspek-aspek yang lain. Cara kerja yang
demikian, yaitu adanya pandangan keotonomian terhadap suatu objek, juga dibawa
ke studi kesastraan. Sebuah karya sastra juga memiliki sifat keotonomian,
sehingga pembicaraan terhadapnya juga tak perlu dikaitkan dengan hal-hal lain
yang di luar karya itu.
Sebuah karya sastra, fiksi atau puisi,
menurut kaum Strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara
koherensif oleh berbagai unsur (pembangunnya). Di satu pihak, struktur karya
sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan
bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang
indah (Abrams, 1981:68). Di pihak lain, struktur karya sastra juga menyaran
pada hubungan antar unsur (intrinsik) yang bersifat timbal balik, saling
menentukan, saling mempengaruhi, yang secara bersama membentuk satu kesatuan
yang utuh. Secara sendiri, terisolasi dari keseluruhnnya, bahan, unsur, atau
bagian-bagian tersebut tidak penting, bahkan tidak ada artinya. Tiap bagian
akan menjadi berarti dan penting setelah ada dalam hubungannya dengan
bagian-bagian yang lain, serta bagaimana sumbangannya terhadap keseluruhan
wacana.
Selain istilah struktural di atas, dunia
kesastraan (juga: linguistik) mengenal istilah strukturalisme. Strukturalisme
dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan (baca: penelitian) kesastraan
yang menekankan pada kajian hubungan antarunsur pembangun karya yang
bersangkutan. Jadi, strukturalisme (disamakan dengan pendekatan objektif) dapat
dipertentangkan dengan pendekatan yng lain, seperti pendekatan mimetik,
ekspresif, dan pragmatik (Abrams, 1981: 189). Namun, di pihak lain,
Strukturalisme menurut Hawkes (1978 lewat Pradopo, 1987: 119-20), pada dasarnya
juga dapat dipandang sebagai cara berpikir tentang dunia (baca: dunia
kesastraan) yang lebih merupakan susunan hubungan daripada hubungan susunan
benda. Dengan demikian, kodrat setiap unsur dalam bagian sistem struktur itu
baru mempunyai makna setelah berada dalam hubungannya dengan unsur-unsur yang
lain yang terkandung di dalamnya.
Analisis struktural karya sastra, yang
dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan
mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik fiksi yang bersangkutan.
Mula-mula diidentifikasi dan dideskripsikan, misalnya, bagaimana keadaan
peristiwa-peristiwa, plot, tokoh, dan penokohan, latar, sudut pandang, dan
lain-lain. Setelah dicoba jelaskan bagaimana fungsi masing-masing unsur itu
dalam menunjang makna keseluruhannya, dan bagaimana hubungan antarunsur itu
sehingga secara bersama membentuk sebuah totalitas kemaknaan yang padu.
Misalnya, bagaimana hubungan antara peristiwa yang satu dengan yang lain,
kaitannya dengan pemplotan yang tak selalu kronologis, kaitannya dengan tokoh
dan penokohan, dengan latar dan sebagainya.
Dengan demikian, pada dasarnya analisis
struktural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan
antarberbagai unsure karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemnyeluruhan.
Analisis structural tak cukup dilakukan hanya sekedar mendata unsur tertentu
sebuah karya fiksi, misalnya peristiwa, plot, tokoh, latar, atau yang lain.
Namun, yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimana hubungan antarunsur itu,
dan sumbangan apa yang diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan
yang dicapai. Hal itu perlu dilakukan mengingat bahwa karya sastra merupakan
sebuah struktur yang kompleks dan unik, disamping setiap karya mempunyai cirri
kekompleksan dan keunikannya sendiri.
III.
TEMA KEDUA NOVEL
A.
THE LOST SYMBOL
The Lost Symbol lebih “kaya” pengetahuan
daripada dua buku sebelumnya. Hal ini terlihat dari hal-hal yang Dan Brown
ceritakan dalam The Lost Symbol seperti; ilmu Noetic, Simbol kuno, fakta-fakta
sejarah tentang amerika serikat, arsitektur di Washington DC hingga persoalan
ketuhanan yang berujung pada pluralisme. Dan Brown melakukan perluasan pada isi
novelnya dengan memberikan kajian-kajian baru selain arti simbol, meskipun
simbol masih menjadi sajian utama novel kelima Dan Brown ini. Dan Brown sukses
menambahkan literalur lain dengan kekayaan pengetahuan baru selain simbol
selain symbol-simbol kuno dalam novelnya, contohnya dalam kutipan “Kini ilmu pengetahuan menunjukkan kepada
kita bahwa mengakses kekuatan itu merupakan sebuah proses fisik yang
sesungguhnya. Otak kita jika digunakan dengan benar, bisa menghimpun kekuatan
yang secara harfiah bisa disebut manusia-super. Alkitab, seperti banyak teks
kuno lainnya, merupakan paparan mendetail mengenai mesin tercanggih yang pernah
diciptakan, benak manusia!”Dia mendesah. “Yang menakjubkan, sains modern baru
mampu menguak lapisan terluar penuh potensi manusia.” “Kedengarannya seakan
pekerjaanmu dalam Noetic akan menjadi lompatan kuantum ke depan.”(The Lost
Symbol: 742) Tema yang diambil
diperkuat lagi dengan adanya unsur-unsur pembangunnya seperti:
Alur yang maju
dan hanya sesekali melakukan alur mundur seperti penggambaran sejarah penculik
Peter Solomon. The Lost Symbol melalui alur maju yang cepat memaksa pembaca tidak
beristirahat dalam berpikir karena teka-teki yang tidak ada habisnya, setiap
lembaran adalah pembahasan simbol dan teka-teki baru dan situasi genting yang
dihadapi Robert Langdon. Pada umumnya Dan Brown tidak membuat hanya berfokus
pada perburuan penculik sahabatnya, namun juga menciptakan misteri-misteri
baru, seperti misalnya: “Pendiri
Rosicrucian,” ujar Galloway, “Konon ada seorang mistik Jerman yang bernama
Christian Rosenkreuz - jelas samaran - mungkin untuk Francis Bacon, yang
diyakini beberapa sejarahwan mendirikan sendiri kelompok itu, walaupun ada
bukti.””Nama samaran!” teriak Langdon mendadak, mengejutkan semua orang, bahkan
dirinya sendiri. “Itu dia! Jeova Sanctus Unum itu nama samaran.””Sepanjang aku
mencoba mengingat apa yang dikatakan Peter mengenai Jeova Sanctus Unum dan
hubungannya dengan Alikimia. Akhirnya aku ingat, itu bukan mengenai Alikimia,
melainkan mengenai seorang Alkemis yang sangat terkenal!” Langdon menatap
kepala Katedral tua itu “Kau tahu? Makalah-makalah pribadi ilmuan yang sedang
kita bahas ini menyertakan salinan manifesto-manifesto salinan Rosicrucian
dengan banyak sekali catatan.” “Siapa?” Tanya Katherine. “Salah satu ilmuan
terbesar di dunia,” jawab Langdon. Sejenak Langdon merasa kembali berada di
Westminster Abbey, berdiri di makam Newton yang berbentuk piramida – tempat dia
mengalami keadaan yang serupa. Dan malam ini, ilmuwan besar itu kembali ke
permukaa. Bukan kebetulan, tentu saja piramida-piramida, misteri-misteri, ilmu
pengetahuan, pengetahuan yang tersembunyi, semuanya saling berkaitan, (The Lost
Symbol: 485). Ketika arti teka-teki benda yang pecahkan
Robert Langdon terpecahkan ternyata masih ada misteri lainnya dibalik itu
semua. Pembaca novelnya “dipaksa” untuk tetap mengikuti
alurnya hingga halaman terakhir untuk menguak semua misterinya.
Latar tempat
menciptakan kegairahan membaca dengan tidak hanya menyebut nama tempat, tapi
juga menjelaskan sejarah tempat tersebut, contohnya seperti: Takdir sesungguhnya Amerika telah hilang
dalam sejarah. Para bapak bangsa ibukota ini pertama-tama memberi nama Roma.
Mereka memberikan nama sungainya Tiber dan mendirikan ibukota klasik dengan
banyak pantheon dan kuil yang kesemuanya dihiasi gambar dewa-dewi yang terkena
dalam sejarah – Appolo, Minerva, Venus, Helios, Vulcan, Yupiter. Di
tengah-tengahnya, seperti pada banyak kota klasik besar lain, para pendirinya
membangun penghormatan kekal bagi para leluhur – Obelisk Mesir. Obelisk ini,
yang bahkan lebih besar dari Obelisk Kairo atau Aleandria, menjulang 555 kaki
(170 meter) ke angkasa, memiliki lebih dari tiga puluh tingkat, serta
menyatakan terimakasih dan penghormatan kepada bapak bangsa setengah dewa yang
menjadi nama baru ibukota ini, Washington. (The Lost Symbol: 129) dimana
Dan Brown menjelaskan asal mula nama ibukota Amerika Serikat yaitu Washington
yang ternyata dulunya ingin dinamakan Roma. Kepintaran Dan Brown lainnya adalah
detail dalam penggambaran lokasi dan isi dari lokasi tersebut, ”
Atrium yang di dominasi delapan kolom doric dari granit tampak hijau itu tampak
seperti makam hibrida dengan patung – patung marmer hitam, mangkuk-mangkuk
lampu, salib-salib teutonic, medali-medali phoenix berkepala dua, dan tempat-tempat
lilin berhias kepala Hermes (The Lost Symbol: 629).
Penggambaran
karakter yang kuat dan memiliki karisma adalah salah satu keunggulan dari The
Lost Symbol. Penggambaran karakter “memanusiawikan” penjahatnya
seperti, Nunez mengangguk dengan
bersemangat, berbuat sebisa mungkin untuk ikut bersandiwara. “Maaf, pak Arsitek
menyuruh saya untuk diam saja.” “Aku tidak peduli apa yang dikatakan Arsitek
kepadamu,” teriak Anderson. “Tutup mulutmu, Trent.” Bentak Sato. “Kalian berdua
pembohong yang payah. Simpan itu untuk penyelidikan CIA terhadapnya nanti.” Dia
merampas kunci terowongan Arsitek dari Anderson. (The Lost Symbol: 297).
B.
BUMI MANUSIA
Perjuangan melawan penindasan
kolonialisme, keluarga, persahabatan, kemanusiaan, dan nilai religi juga budaya
pada masyarakat di zamannya merupakan tema dari novel ini secara garis besar. Perjuangan
melawan penindasan kolonialisme terhadap masyarakat Pribumi memang kental
terasa. Kolonialisme yang menjadi dominan kerap mengharamkan segala hal berbau
Pribumi yang menjadi minoritas di bumi sendiri. Di mana seorang pribumi tanpa
nama keluarga bisa dianggap hina; nama keluarga juga bisa menyinggung nilai
budaya dari masyarakat Eropa yang saat itu mendiami bumi pertiwi. Dan hal ini
bisa dibuktikan pada penggalan berikut:
“Robert Mellema,” ia memperkenalkan
diri. “Minke,” balasku.
Ia masih juga menjabat tanganku, menunggu aku menyebutkan nama keluargaku.
Aku tak punya, maka tak menyebutkan. Ia mengernyit. Aku mengerti; barang kali
dianggapnya aku anak yang tidak atau belum diakui ayahnya melalui pengadilan;
tanpa nama keluarga adalah Indo hina, sama dengan Pribumi. Dan aku memang
Pribumi. (Bumi Manusia: 26) Tema yang diambil diperkuat lagi dengan adanya
unsur-unsur pembangunnya seperti:
Alur yang digunakan dalam Bumi
Manusia adalah teknik ingatan atau flashback. Teknik ini menempatkan
peristiwa yang mana berisi peralihan dari keadaan satu kepada keadaan yang lain
yang terjadi di masa lalu ditampilakn dalam suatu rangkaian perisitiwa. Di mana
dalam rangkaian tersebut juga memuat alur maju dan mundur yang mana tergantung
oleh kondisi si tokoh dalam cerita. “Tigabelas tahun kemudian catatan pendek
ini kubacai dan kupelajari kembali, kupadu dengan impian, khayal. Memang
menjadi lain dari aslinya. Tak kepalang tanggung. Dan begini kemudian jadinya” (Bumi Manusia: 10)
Dalam novel ini latar yang melandasi
suasana yang membawa unsur-unsur pendukung untuk menguatkan cerita. Yakni
diantaranya waktu berlalunya kejadian, musim terjadinya, lingkungan agama,
sosial, emosional, budaya serta latar fisikal. Yang dimaksud dengan latar
fisikal adalah tempat, waktu, dan alam fisik di sekitar tokoh cerita, sedangkan
latar sosial adalah penggambaran keadaan massyarakat tertentu,
kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada suatu tempat tertentu, pandangan hidup,
sikap hidup, adat istiadat, dan sebagainya yang melatari sbeuah peristiwa. Dan
hal-hal tersebut bisa dijumpai pada penggalan berikut:
“Petir
pun takkan begitu mengagetkan. Kegelisahan merambat-rambat ke seluruh tubuh,
sampai pada kaki, dan kaki pun jadi salah tingkah.” (Bumi Manusia: 69)
Pramoedya menyatakan watak yang
dimiliki oleh tokoh-tokoh dalam novel ini dihantarkan melalui teknik campuran.
Di mana membiarkan tokoh itu sendiri untuk menyatakan diri sendiri lewat
kata-kata, dan perbuatan mereka sendiri melalui dialog, perbuatan, lukisan
fisik, sikap dan sebagainya. Dilihat
dari tokoh sebagai seorang sahabat, teman, guru, dan suami bagi
Annelies, sosok penyayang dan penyabar melekat pada diri Minke. Dan ini jelas
terdapat pada kutipan berikut. “Jantung menggila ini terasa mendadak tak
lagi berdenyut mendengar lengking tawa Annelies. Lambat-lambat kunaikkan
pandang padanya. Giginya gemerlapan, nampak, lebih indah dari semua mutiara
yang tak pernah kulihat. Ahoi, philogynik, dalam keadaan begini pun kau masih
sempat mengagumi dan memuja kecantikannya.” (Bumi Manusia: 29)
IV.
MEMBANDINGKAN KEDUA NOVEL
Berdasarkan tema yang telah di paparkan
di atas, dapat dilihat dari novel The Lost Symbol yang lebih “kaya” pengetahuan
daripada dua buku sebelumnya. Hal ini terlihat dari hal-hal yang Dan Brown
ceritakan dalam The Lost Symbol seperti; ilmu Noetic, Simbol kuno, fakta-fakta
sejarah tentang amerika serikat, arsitektur di Washington DC hingga persoalan
ketuhanan yang berujung pada pluralisme. Dan Brown melakukan perluasan pada isi
novelnya dengan memberikan kajian-kajian baru selain arti simbol, meskipun
simbol masih menjadi sajian utama novel kelima Dan Brown ini. Dan Brown sukses
menambahkan literalur lain dengan kekayaan pengetahuan baru selain simbol
selain symbol-simbol kuno dalam novelnya. Dan novel Bumi Manusia yang
bertemakan perjuangan
melawan penindasan kolonialisme, keluarga, persahabatan, kemanusiaan, dan nilai
religi juga budaya pada masyarakat di zamannya merupakan tema dari novel ini
secara garis besar. Perjuangan melawan penindasan kolonialisme terhadap
masyarakat Pribumi memang kental terasa. Kolonialisme yang menjadi dominan
kerap mengharamkan segala hal berbau Pribumi yang menjadi minoritas di bumi
sendiri. Di mana seorang pribumi tanpa nama keluarga bisa dianggap hina; nama
keluarga juga bisa menyinggung nilai budaya dari masyarakat Eropa yang saat itu
mendiami bumi pertiwi. Kita dapat mengetahui persamaan, perbedaan,
dan hubungan keterkaitan. Berikut dipaparkan penjelasan dari persamaan,
perbedaan, dan hubungan keterkaitan yang terkandung dalam novel.
a.
Persamaan
Dalam persamaannya, novel The Lost Symbol dan novel
Bumi manusia sama-sama dilandasi oleh fakta sejarah yang pernah terjadi di masa
lampau. Dimana dalam novel The Lost Symbol menceritakan tentang sejarah di
Washington DC yang mengungkap
symbol-simbol rahasia perkumpulan kaum Mason dan novel Bumi Manusia
menggambarkan tentang sejarah yang terjadi di Indonesia pada zaman awal
masuknya pemikiran rasional Hindia Belanda dimana
budaya dan peradaban Eropa dieluk – elukkan sedangkan Pribumi hanya dianggap
sebelah mata, diremehkan, bahkan ditindas.
b.
Perbedaan
Dalam novel The Lost Symbol dengan Bumi Manusia
disini sangat terlihat jelas perbedaannya. The Lost Symbol, sebelumnya akan
diberi judul The Solomon Key, merupakan sebuah novel yang ditulis oleh novelis
Amerika Serikat, Dan Brown. Novel ini menceritakan tentang teori konspirasi,
yang mengambil kisah di Washington DC. Buku ini diterbitkan pada tanggal 15
September 2009.
Dalam novel The Lost Symbol menceritakan tentang fakta
sejarah dan imajinasi fiksi. Topik yang diangkat adalah perkumpulan kaum
rahasia Mason, yang kental dengan kontroversinya, agenda-agenda rahasianya,
serta simbol-simbolnya.
Bumi manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya
Ananta Toer yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980.
Novel ini melingkupi masa kejadian antara tahun 1898 hingga tahun 1918, masa
ini adalah masa munculnya pemikiran politik etis dan masa awal periode
kebangkitan nasional, masa ini juga menjadi masa awal masuknya pemikiran
rasional ke Hindia Belanda, masa awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern
yang juga merupakan awal kelahiran demokrasi pola revolusi Prancis. Novel Bumi
Manusia berisikan sebuah cerita
tentang perlawanan kaum pribumi melawan kolonialisme belanda. Kehidupan di
Indonesia dimana budaya dan peradaban Eropa dieluk-elukkan sedangkan Pribumi
hanya dianggap sebelah mata, diremehkan, ditindas.
c.
Hubungan Keterkaitan
Dalam novel The Lost Symbol maupun novel Bumi
Manusia tidak memiliki pengaruh apapun atau hubungan keterkaitan di antara
keduanya. Karena dalam novel The Lost Symbol, Dan Brown tentang melibatkan
karakter Robert Langdon, ahli symbol dari Universitas Harvard yang menceritakan
teori konspirasi dalam memecahkan simbol-simbol yang membangun Washington DC.
Sedangkan dalam novel Bumi Manusia, Pramoedya
mengisahkan tentang adanya ketidakadilan dalam kalangan masyarakan pribumi yang
diceritakan melalui tokoh Minke, Annelise, Nyai Ontosoroh, dan lain-lain.
Adapun
nilai-nilai sosial yang dapat kita pelajari dari kedua novel tersebut, yakni
novel The Lost Symbol dan novel Bumi Manusia, seperti.
a.
Novel The Lost Symbol
The
Lost Symbol karya Dan Brown. Novel ini menjelaskan bagaimana cara menjalin
persahabatan sejati, guru menjadi pahlawan dalam perubahan zaman, dan peran
orang tua dalam menanamkan karakter positif pada anak sejak dini. Nilai-nilai
pendidikan karakter dalam novel The Lost Symbol mencakup nilai-nilai pendidikan
karakter dalam hubungannya dengan Tuhan, nilai-nilai pendidikan karakter dalam
hubungannya dengan sesama, nilai-nilai pendidikan karakter dalam hubungannya
dengan lingkungan, dan nilai kebangsaan. Novel ini mengajarkan banyak hal yang
bisa digunakan sebagai pengubah pola pikir. Pelajaran yang amat berharga yang
bisa diambil adalah bahwa ubahlah perspektif pandangan. jangan memandang
segala sesuatunya hanya dari perspektif yang diinginkan, tapi cobalah berbagai
sudut. Kenyataan mungkin tidak jauh, hanya cara pandang kita yang menghalangi
menemukannya. selain itu, banyak kutipan-kutipan tokoh-tokoh terkenal yang akan
menginspirasi, misalnya kenalilah dirimu. Novel ini juga mengajarkan untuk
menggali potensi yang ada dalam diri sendiri, karena misteri yang sebenarnya
adalah menggunakan semua potensi manusia untuk mencapai sebuah kehidupan yang
tercerahkan.
b.
Novel
Bumi Manusia
Nilai sosial pada Bumi Manusia bisa
berupa hubungan dengan Tuhan: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
manusia harus menjalankan kehidupannya sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang
telah ditetapkan oleh Tuhan. Maka mereka bisa dikatakan taat kepada
perintah-Nya. Menceritakan tentang perkawinan antara Minke dan Annelies yang
sesuai dengan ajaran islam, yaitu adanya saksi dan wali. Hal ini membuktikan
bahwa masih ada kepercayaan kepada Tuhan dan melaksanakan ketentuan-ketentuan-Nya.
Dan pada kutipan Nyai Ontosoroh yang menjelaskan tentang bagaimana hukum-hukum
islam itu dikesampingkan. Minke dan Annelies yang sah perkawinannya menurut
islam, sama sekali tidak diakui oleh hukum sidang Eropa.
Dapat bersikap sabar dan tawakal
atas cobaan Tuhan, hubungan dengan manusia lain: cinta kasih orang tua pada
anak, menceritakan tentang Nyai Ontosoroh yang membela Annelies dalam sidang
yang akan memisahkan antara ibu dan anak itu. Nyai Ontosoroh bersikeras
mempertahankan anaknya yang akan diambil oleh keluarga Mellema karena termasuk
keturunan Mellema. Sikap sopan santun dengan yang lebih tua, menjaga suasana
kekeluargaan dan kebersamaan, Minke telah lama tidak bertemu dengan bundanya
yang tinggal di kota B. Minke merasa bersalah karena tidak pernah membalas
surat dari keluarganya. Kedatangannya ke kota B juga karena ada utusan Ayahnya
untuk membawa Minke pulang karena ada acara pelantikan gubernur. Sikap menolong
orang lain yang sedang mengalami
kesasuhan, hubungan dengan kemasyarakatan: ketidakadilan, usaha
mengembalikan harkat kemanusiaan.
V.
KESIMPULAN
Sebuah karya
sastra, fiksi atau puisi, menurut kaum Strukturalisme adalah sebuah totalitas
yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur (pembangunnya). Di satu
pihak, struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan
gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama
membentuk kebulatan yang indah (Abrams, 1981:68).
The
Lost Symbol, adalah buku ketiga novelis Dan Brown yang melibatkan
karakter Robert Langdon, ahli simbol dari Universitas Harvard, setelah Angels & Demons dan The Da Vinci Code. Ketika akhirnya
judul resminya diumumkan, The Lost Symbol, disertai tanggal rilisnya pada 15
September 2009, kehebohan lain muncul. Kali ini yang heboh adalah
penerbit-penerbit dari seluruh pelosok dunia yang berkompetisi meraih rights
buku yang hampir pasti akan menjadi best seller di negara mana pun. Buku ini
menceritakan tentang teori konspirasi, yang mengambil kisah di Washington DC.
Robert Langdon kembali menguak kode-kode rahasia. Kali ini, Langdon
akan membongkar rahasia Freemason. The Lost
Symbol lebih “kaya” pengetahuan daripada dua buku sebelumnya.
Hal ini terlihat dari hal-hal yang Dan Brown ceritakan dalam The Lost Symbol
seperti; ilmu Noetic, Simbol kuno, fakta-fakta sejarah tentang amerika serikat,
arsitektur di Washington DC hingga persoalan ketuhanan yang berujung pada
pluralisme. Dan Brown melakukan perluasan pada isi novelnya dengan memberikan
kajian-kajian baru selain arti simbol, meskipun simbol masih menjadi sajian
utama novel kelima Dan Brown ini. Dan Brown sukses menambahkan literalur lain dengan
kekayaan pengetahuan baru selain simbol selain symbol-simbol kuno dalam
novelnya.
Bumi Manusia
adalah buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta
Toer yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980. Bumi Manusia
berhasil terjual sebanyak 60.000 eksemplar hanya dalam waktu enam bulan dan
Anak dicetak ulang tiga kali dalam waktu enam bulan. Terjadi kehebohan setelah
diterbitkannya Bumi Manusia yang
kemudian dilarang beredar setahun kemudian atas perintah Jaksa Agung tahun 1981, dengan tuduhan mempropagandakan ajaran-ajaran Marxisme, Leninisme, dan Komunisme. Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang tokoh
bernama Minke. Minke adalah salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS. Sebagai seorang pribumi, ia kurang
disukai oleh siswa-siswi Eropa lainnya. Minke digambarkan sebagai seorang
revolusioner di buku ini. Ia berani melawan ketidakadilan yang terjadi pada
bangsanya. Ia juga berani memberontak terhadap kebudayaan Jawa, yang membuatnya
selalu di bawah. Perjuangan melawan penindasan kolonialisme, keluarga,
persahabatan, kemanusiaan, dan nilai religi juga budaya pada masyarakat di
zamannya merupakan tema dari novel ini secara garis besar. Perjuangan melawan
penindasan kolonialisme terhadap masyarakat Pribumi memang kental terasa.
Kolonialisme yang menjadi dominan kerap mengharamkan segala hal berbau Pribumi
yang menjadi minoritas di bumi sendiri. Di mana seorang pribumi tanpa nama
keluarga bisa dianggap hina; nama keluarga juga bisa menyinggung nilai budaya
dari masyarakat Eropa yang saat itu mendiami bumi pertiwi.
Kita dapat mengetahui persamaan novel
The Lost Symbol dan novel Bumi manusia sama-sama dilandasi oleh fakta sejarah
yang pernah terjadi di masa lampau. Dimana dalam novel The Lost Symbol
menceritakan tentang sejarah di Washington DC
yang mengungkap symbol-simbol rahasia perkumpulan kaum Mason dan novel Bumi Manusia
menggambarkan tentang sejarah yang terjadi di Indonesia pada zaman awal
masuknya pemikiran rasional Hindia Belanda dimana
budaya dan peradaban Eropa dieluk – elukkan sedangkan Pribumi hanya dianggap
sebelah mata, diremehkan, bahkan ditindas.
Dalam novel The Lost Symbol dengan Bumi
Manusia disini sangat terlihat jelas perbedaannya. The Lost
Symbol, sebelumnya akan diberi judul The Solomon Key, merupakan sebuah novel
yang ditulis oleh novelis Amerika Serikat, Dan Brown. Novel ini menceritakan
tentang teori konspirasi, yang mengambil kisah di Washington DC. Buku ini
diterbitkan pada tanggal 15 September 2009. Bumi manusia adalah buku pertama dari
Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali diterbitkan oleh
Hasta Mitra pada tahun 1980. Novel ini melingkupi masa kejadian antara tahun
1898 hingga tahun 1918, masa ini adalah masa munculnya pemikiran politik etis
dan masa awal periode kebangkitan nasional, masa ini juga menjadi masa awal
masuknya pemikiran rasional ke Hindia Belanda, masa awal pertumbuhan
organisasi-organisasi modern yang juga merupakan awal kelahiran demokrasi pola
revolusi Prancis.
Dalam novel The Lost Symbol maupun novel
Bumi Manusia tidak memiliki pengaruh apapun atau hubungan keterkaitan di antara
keduanya. Karena dalam novel The Lost Symbol, Dan Brown tentang melibatkan
karakter Robert Langdon, ahli symbol dari Universitas Harvard yang menceritakan
teori konspirasi dalam memecahkan simbol-simbol yang membangun Washington DC.
Sedangkan dalam novel Bumi Manusia,
Pramoedya mengisahkan tentang adanya ketidakadilan dalam kalangan masyarakan
pribumi yang diceritakan melalui tokoh Minke, Annelise, Nyai Ontosoroh, dan
lain-lain.
The
Lost Symbol karya Dan Brown. Novel ini menjelaskan bagaimana cara menjalin
persahabatan sejati, guru menjadi pahlawan dalam perubahan zaman, dan peran
orang tua dalam menanamkan karakter positif pada anak sejak dini. Nilai-nilai pendidikan
karakter dalam novel The Lost Symbol mencakup nilai-nilai pendidikan karakter
dalam hubungannya dengan Tuhan, nilai-nilai pendidikan karakter dalam
hubungannya dengan sesama, nilai-nilai pendidikan karakter dalam hubungannya
dengan lingkungan, dan nilai kebangsaan.
Nilai sosial pada Bumi Manusia bisa
berupa hubungan dengan Tuhan: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
dapat bersikap sabar dan tawakal atas cobaan Tuhan. hubungan dengan manusia
lain: cinta kasih orang tua pada anak, sikap sopan santun dengan yang lebih
tua, menjaga suasana kekeluargaan dan kebersamaan, menolong orang lain yang
sedang mengalami kesasuhan. Hubungan
dengan kemasyarakatan: ketidakadilan, usaha mengembalikan harkat kemanusiaan.
DAFTAR
PUSTAKA
Brown, Dan. 2010.
The Lost Symbol. Yogyakarta: Bentang
Pustaka.
Toer, Pramoedya Ananta. 2005. Bumi
Manusia. Jakarta: Lentera Dipantara.
Nurgiyantoro, Burhan. 2010.
Theori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar