Senin, 08 Januari 2018

Sastra Perbandingan: Analisis Novel



TUGAS AKHIR
ANALISIS NOVEL THE LOST SYMBOL KARYA DAN BROWN DENGAN NOVEL BUMI MANUSIA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER





DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS AKHIR MATA KULIAH SASTRA PERBANDINGAN
NAMA           :           SOFIYA LARAS KENANGA
NIM                :           E1C115078




PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2018



I.            CERITA SINGKAT KEDUA NOVEL
A.    THE LOST SYMBOL
The Lost Symbol, adalah buku ketiga novelis Dan Brown yang melibatkan karakter Robert Langdon, ahli simbol dari Universitas Harvard, setelah Angels & Demons dan The Da Vinci Code.
Ketika akhirnya judul resminya diumumkan, The Lost Symbol, disertai tanggal rilisnya pada 15 September 2009, kehebohan lain muncul. Kali ini yang heboh adalah penerbit-penerbit dari seluruh pelosok dunia yang berkompetisi meraih rights buku yang hampir pasti akan menjadi best seller di negara mana pun.
Pada pemunculan perdananya, diterbitkan sebanyak 6.5 juta cetakan (5 juta di Amerika Utara dan 1.5 juta di Inggris), terbesar dalam sejarah penerbitan buku. Pada hari pertama penjualannya buku ini terjual sebanyak satu juta cetakan dalam bentuk hardcover dan juga dalam bentuk versi e-book di Amerika Serikat, Inggris dan Kanada, membuatnya buku yang tercepat terjual dalam sejarah.
Sebelumnya novel ini akan diberi judul The Solomon Key, adalah sebuah novel yang ditulis oleh novelis Amerika Serikat, Dan Brown. Buku ini menceritakan tentang teori konspirasi, yang mengambil kisah di Washington DC. Robert Langdon kembali menguak kode-kode rahasia. Kali ini, Langdon akan membongkar rahasia Freemason.
Robert Langdon kembali dalam petualangan penuh teka-teki, rahasa perkumpulan kuno, symbol-simbol keagamaan dan kekuasaan di masa lalu. Petualangan Robert Langdon kali ini bertempat di ibukota Amerika Serikat yaitu Washington DC. Professor dari Universitas Harvard ini mendapat undangan dari seorang sahabat lamanya yaitu Peter Solomon, seorang anggota mason untuk memberikan ceramah di gedung tempat anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan para senator merumuskan undang-undang yaitu Gedung Capitol. Alih-alih memberikan ceramah, Robert Langdon harus berurusan dengan seorang psikopat yang menculik Peter Solomon dan memberikannya teka-teki untuk ditebus dengan nyawa sahabatnya tersebut. Disisi lain, adik dari Peter Solomon yaitu Katherine, sedang mempelajari dan meneliti sesuatu yang dapat mengubah dunia di Museum Smithsonian juga mendapat serangan dari penculik Peter Solomon untuk menguasai penemuan Katherine yang luar biasa yang dikatakan dapat mengubah dunia. Penculik Peter Solomon tidak main-main dengan nyawa Peter Solomon, ia memberikan sebuah tangan kanan Peter Solomon yang berisi teka-teki dan sebuah pesan bahwa satu-satunya orang yang dapat menyelamatkan Peter, hanyalah Robert Langdon sendiri.
Kode-kode yang melindungi suatu tempat yang amat sangat dirahasiakan oleh kelompok tersebut. Pencarian simbol yang hilang berupa kata terakhir dari teka teki yang ada dalam Piramida milik Peter Solomon. Piramida ini merupakan barang pusaka yang diwariskan turun temurun keluarga Solomon. Piramida ini dipercaya sebagai peta untuk mendapatkan rahasia yang sangat besar dan harta karun yang besar pula. Teka teki yang sangat rumit pada Piramida dihubungkan dengan kelompok Mason yang penuh dengan misteri. Sebuah rahasia, yang konon akan membuat pemiliknya mampu mengubah dunia!
Tentu saja tugas Langdon tidaklah mudah, karena ia berhadapan dengan penjahat sadis yang tidak segan-segan membunuh demi mendapatkan keinginananya. Keadaan bertambah sulit dengan adanya campur tangan CIA, yang menganggap Langdon sebagai ancaman keamanan nasional. Menyusuri lorong-lorong bahwa tanah Capitol dan tempat-tempat menakjubkan lainnya sembari menghindari kejaran CIA, Langdon berusaha memecahkan kode rahasia Mason. Sebelum tengah malam, Langdon sudah harus berhasil, karena jika dia gagal, Peter Solomon akan dibunuh, dan sebuah rahasia yang konon akan mengguncang Amerika Serikat, bahkan dunia, akan tersebar.

B.     BUMI MANUSIA
Bumi Manusia ini ditulis Pramoedya Ananta Toer ketika masih mendekam di Pulau Buru. Sebelum ditulis pada tahun 1975, sejak tahun 1973 terlebih dahulu telah diceritakan ulang kepada teman-temannya. Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980.
Buku pertama yang diterbitkan Hasta Mitra adalah Bumi Manusia (1980) karya Pramoedya. Buku ini kemudian dilanjutkan Anak Semua Bangsa (1981). Keduanya laris di pasaran. Pada Juli l980 naskah Bumi Manusia dicetak oleh percetakan Aga Press. Dua belas hari setelah keluar dari percetakan, 5.000 eksemplar habis terjual. Pada November 1980, cetakan ketiga Bumi Manusia terjual l0 ribu eksemplar. Rekor penjualan yang banyak dan dalam waktu singkat ini belum terpecahkan dalam sejarah penerbitan komersial di Indonesia. Penerbit bahkan kewalahan melayani pesanan yang datang bukan hanya dari Indonesia, tapi juga dari berbagai penjuru dunia. Bahkan ada yang sampai menunggu di luar kantor percetakan dan kantor Hasta Mitra sekadar memastikan bahwa mereka tak akan kehabisan Bumi Manusia. Hanya beberapa bulan setelah Bumi Manusia keluar, sejumlah penerbit di Hongkong, Malaysia, Belanda dan Australia mendekati Hasta Mitra untuk mendapat hak terjemahan. Pramoedya sebagai penulis tetap mendapat royalti sementara Hasta Mitra hanya bertindak sebagai perantara. Penerbit Wira Karya di Malaysia membayar royalti sebesar 12% langsung kepada Pramoedya. Bumi Manusia berhasil terjual sebanyak 60.000 eksemplar hanya dalam waktu enam bulan dan Anak dicetak ulang tiga kali dalam waktu enam bulan.
Terjadi kehebohan setelah diterbitkannya Bumi Manusia yang kemudian dilarang beredar setahun kemudian atas perintah Jaksa Agung tahun 1981, dengan tuduhan mempropagandakan ajaran-ajaran Marxisme, Leninisme, dan Komunisme, walaupun dalam buku ini tidak disebut-sebut sedikit pun tentang ajaran-ajaran Marxisme, Leninisme, atau komunisme, yang disebut hanya Nasionalisme. Pada tanggal 29 Mei 1981, Jaksa Agung mengeluarkan SK-052/JA/5/1981 tentang pelarangan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Dalam surat itu antara lain disebutkan sepucuk surat dari Kopkamtib yang keluar seminggu sebelumnya, dan Rapat koordinasi Polkam tanggal 18 Mei 1981. Pelarangan itu sepenuhnya adalah keputusan politik dan tidak ada kaitannya dengan nilai sastra, argumentasi ilmiah serta alasan-alasan yang dikemukakan sebelumnya. Semua agen dan toko buku didatangi oleh Kejaksaan Agung yang menyita semua eksemplar Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Beberapa di antaranya malah mengambil inisiatif menyerahkannya secara sukarela.
Tapi sampai Agustus 1981, hanya ada 972 eksemplar yang diterima oleh Kejaksaan Agung, dari sekitar 20.000 eksemplar yang beredar. Sebelum dilarang, buku ini sukses dengan 10 kali cetak ulang dalam setahun pada 1980-1981. Sampai tahun 2005, buku ini telah diterbitkan dalam 33 bahasa. Pada September 2005, buku ini diterbitkan kembali di Indonesia oleh Lentera Dipantara.
Buku ini melingkupi masa kejadian antara tahun 1898 hingga tahun 1918, masa ini adalah masa munculnya pemikiran politik etis dan masa awal periode Kebangkitan Nasional. Masa ini juga menjadi awal masuknya pemikiran rasional ke Hindia Belanda, masa awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern yang juga merupakan awal kelahiran demokrasi pola Revolusi Perancis. Bumi Manusia berisikan sebuah cerita tentang perlawanan kaum pribumi melawan kolonialisme belanda, mengisahkan zaman setelah pemerintahan Belanda  yaitu Hindia-Belanda. Kehidupan di Indonesia dimana budaya dan peradaban Eropa dieluk-elukkan sedangkan Pribumi hanya dianggap sebelah mata, diremehkan, ditindas.
Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang tokoh bernama Minke. Minke adalah salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS. Pada masa itu, yang dapat masuk ke sekolah HBS adalah orang-orang keturunan Eropa. Minke adalah seorang pribumi yang pandai, ia sangat pandai menulis. Tulisannya bisa membuat orang sampai terkagum-kagum dan dimuat di berbagai Koran Belanda pada saat itu. Sebagai seorang pribumi, ia kurang disukai oleh siswa-siswi Eropa lainnya. Minke digambarkan sebagai seorang revolusioner di buku ini. Ia berani melawan ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Ia juga berani memberontak terhadap kebudayaan Jawa, yang membuatnya selalu di bawah.
Selain tokoh Minke, buku ini juga menggambarkan seorang "Nyai" yang bernama Nyai Ontosoroh. Nyai pada saat itu dianggap sebagai perempuan yang tidak memiliki norma kesusilaan karena statusnya sebagai istri simpanan. Statusnya sebagai seorang Nyai telah membuatnya sangat menderita, karena ia tidak memiliki hak asasi manusia yang sepantasnya. Tetapi, yang menariknya adalah Nyai Ontosoroh sadar akan kondisi tersebut sehingga dia berusaha keras dengan terus-menerus belajar, agar dapat diakui sebagai seorang manusia. Nyai Ontosoroh berpendapat, untuk melawan penghinaan, kebodohan, kemiskinan, dan sebagainya hanyalah dengan belajar. Minke juga menjalin asmara dan akhirnya menikah dengan Annelies, anak dari Nyai Ontosoroh dan tuan Mellema.
Pertemuan kali pertama Minke dengan Annelies menjadi poin penting dalam novel ini. Kisah cinta antara Minke dan Annelies mengalami sesuatu yang sangat memilukan, yaitu karena Annelies anak dari seorang Gundik yang bernama Nyai Ontosoroh, akibatnya perkawinan antara Nyai Ontosoroh dengan Herman Mellema tidak diakui pengadilan tinggi belanda. Begitupun dengan pernikahan Minke dan Annelies tidak di akui pengadilan belanda karena tidak ada ijin orang tua sah dari annelies, hak asuh annelies diberikan kepada ibu tirinya di Belanda. Dan akhirnya secara terpaksa Annelies harus angkat kaki dan pergi ke Belanda. Sementara Minke dan Nyai Ontosoroh tidak tinggal diam melawan ketidakadilan pengadilan putih belanda, minke dengan kepiawannya menulis pengaduan diberbagai media cetak telah menyalakan api para pembacanya, pendukung Minke tidak hanya sekedar kerabat-kerabatnya, kini seluruh masyarakat di wonokromo dan Madura ikut protes terhadap ketidakadlilan belanda. Namun apalah yang bisa dilakukan oleh seorang Pribumi terhadap pengadilan tinggi, semuanya tidak ada hasil. Annelies harus pergi ke Belanda dan terpisah dari pangerannya Minke. Hal tersebut merubah semua pemikiran minke yang semula pengagum belanda kini dia merasakan ketidakadilan, penjajahan, diskriminasi belanda terhadap pribumi. Sebuah tindakan yang jauh dari rasa keadilan. Itulah yang disebabkan oleh para penjajah: perampasan kekayaan, pertentangan kelas dan penindasan.
II.            KAJIAN STRUKTURALISME
Pendekatan struktural dipelopori oleh kaum Formalis Rusia dan Strukturalisme Puasa. Ia mendapat pengaruh langsung dari teori Saussure yang mengubah studi linguistic dari pendekatan diakronik ke sinkronik. Studi linguistik tidak lagi ditekankan pada sejarah perkembangannya, melainkan pada hubungan antarunsurnya.  Masalah unsur dan hubungan antarunsur merupakan hal yang penting dalam pendekatan ini. Unsur bahasa misalnya, terdiri dari unsur fonologi, morfologi, dan sintaksis, maka dalam studi linguistic pun dikenal adanya studi fonetik, fonemik, morfologi, dan sintaksis. Pembicaraan terhadap salah satu aspek tersebut tak dibenarkan untuk dikaitkan dengan aspek-aspek yang lain. Cara kerja yang demikian, yaitu adanya pandangan keotonomian terhadap suatu objek, juga dibawa ke studi kesastraan. Sebuah karya sastra juga memiliki sifat keotonomian, sehingga pembicaraan terhadapnya juga tak perlu dikaitkan dengan hal-hal lain yang di luar karya itu.
Sebuah karya sastra, fiksi atau puisi, menurut kaum Strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur (pembangunnya). Di satu pihak, struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah (Abrams, 1981:68). Di pihak lain, struktur karya sastra juga menyaran pada hubungan antar unsur (intrinsik) yang bersifat timbal balik, saling menentukan, saling mempengaruhi, yang secara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh. Secara sendiri, terisolasi dari keseluruhnnya, bahan, unsur, atau bagian-bagian tersebut tidak penting, bahkan tidak ada artinya. Tiap bagian akan menjadi berarti dan penting setelah ada dalam hubungannya dengan bagian-bagian yang lain, serta bagaimana sumbangannya terhadap keseluruhan wacana.
Selain istilah struktural di atas, dunia kesastraan (juga: linguistik) mengenal istilah strukturalisme. Strukturalisme dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan (baca: penelitian) kesastraan yang menekankan pada kajian hubungan antarunsur pembangun karya yang bersangkutan. Jadi, strukturalisme (disamakan dengan pendekatan objektif) dapat dipertentangkan dengan pendekatan yng lain, seperti pendekatan mimetik, ekspresif, dan pragmatik (Abrams, 1981: 189). Namun, di pihak lain, Strukturalisme menurut Hawkes (1978 lewat Pradopo, 1987: 119-20), pada dasarnya juga dapat dipandang sebagai cara berpikir tentang dunia (baca: dunia kesastraan) yang lebih merupakan susunan hubungan daripada hubungan susunan benda. Dengan demikian, kodrat setiap unsur dalam bagian sistem struktur itu baru mempunyai makna setelah berada dalam hubungannya dengan unsur-unsur yang lain yang terkandung di dalamnya.
Analisis struktural karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Mula-mula diidentifikasi dan dideskripsikan, misalnya, bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, plot, tokoh, dan penokohan, latar, sudut pandang, dan lain-lain. Setelah dicoba jelaskan bagaimana fungsi masing-masing unsur itu dalam menunjang makna keseluruhannya, dan bagaimana hubungan antarunsur itu sehingga secara bersama membentuk sebuah totalitas kemaknaan yang padu. Misalnya, bagaimana hubungan antara peristiwa yang satu dengan yang lain, kaitannya dengan pemplotan yang tak selalu kronologis, kaitannya dengan tokoh dan penokohan, dengan latar dan sebagainya.
Dengan demikian, pada dasarnya analisis struktural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antarberbagai unsure karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemnyeluruhan. Analisis structural tak cukup dilakukan hanya sekedar mendata unsur tertentu sebuah karya fiksi, misalnya peristiwa, plot, tokoh, latar, atau yang lain. Namun, yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimana hubungan antarunsur itu, dan sumbangan apa yang diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang dicapai. Hal itu perlu dilakukan mengingat bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur yang kompleks dan unik, disamping setiap karya mempunyai cirri kekompleksan dan keunikannya sendiri.
III.            TEMA KEDUA NOVEL
A.    THE LOST SYMBOL
The Lost Symbol lebih “kaya” pengetahuan daripada dua buku sebelumnya. Hal ini terlihat dari hal-hal yang Dan Brown ceritakan dalam The Lost Symbol seperti; ilmu Noetic, Simbol kuno, fakta-fakta sejarah tentang amerika serikat, arsitektur di Washington DC hingga persoalan ketuhanan yang berujung pada pluralisme. Dan Brown melakukan perluasan pada isi novelnya dengan memberikan kajian-kajian baru selain arti simbol, meskipun simbol masih menjadi sajian utama novel kelima Dan Brown ini. Dan Brown sukses menambahkan literalur lain dengan kekayaan pengetahuan baru selain simbol selain symbol-simbol kuno dalam novelnya, contohnya dalam kutipan “Kini ilmu pengetahuan menunjukkan kepada kita bahwa mengakses kekuatan itu merupakan sebuah proses fisik yang sesungguhnya. Otak kita jika digunakan dengan benar, bisa menghimpun kekuatan yang secara harfiah bisa disebut manusia-super. Alkitab, seperti banyak teks kuno lainnya, merupakan paparan mendetail mengenai mesin tercanggih yang pernah diciptakan, benak manusia!”Dia mendesah. “Yang menakjubkan, sains modern baru mampu menguak lapisan terluar penuh potensi manusia.” “Kedengarannya seakan pekerjaanmu dalam Noetic akan menjadi lompatan kuantum ke depan.”(The Lost Symbol: 742) Tema yang diambil diperkuat lagi dengan adanya unsur-unsur pembangunnya seperti:
Alur yang maju dan hanya sesekali melakukan alur mundur seperti penggambaran sejarah penculik Peter Solomon. The Lost Symbol melalui alur maju yang cepat memaksa pembaca tidak beristirahat dalam berpikir karena teka-teki yang tidak ada habisnya, setiap lembaran adalah pembahasan simbol dan teka-teki baru dan situasi genting yang dihadapi Robert Langdon. Pada umumnya Dan Brown tidak membuat hanya berfokus pada perburuan penculik sahabatnya, namun juga menciptakan misteri-misteri baru, seperti misalnya: “Pendiri Rosicrucian,” ujar Galloway, “Konon ada seorang mistik Jerman yang bernama Christian Rosenkreuz - jelas samaran - mungkin untuk Francis Bacon, yang diyakini beberapa sejarahwan mendirikan sendiri kelompok itu, walaupun ada bukti.””Nama samaran!” teriak Langdon mendadak, mengejutkan semua orang, bahkan dirinya sendiri. “Itu dia! Jeova Sanctus Unum itu nama samaran.””Sepanjang aku mencoba mengingat apa yang dikatakan Peter mengenai Jeova Sanctus Unum dan hubungannya dengan Alikimia. Akhirnya aku ingat, itu bukan mengenai Alikimia, melainkan mengenai seorang Alkemis yang sangat terkenal!” Langdon menatap kepala Katedral tua itu “Kau tahu? Makalah-makalah pribadi ilmuan yang sedang kita bahas ini menyertakan salinan manifesto-manifesto salinan Rosicrucian dengan banyak sekali catatan.” “Siapa?” Tanya Katherine. “Salah satu ilmuan terbesar di dunia,” jawab Langdon. Sejenak Langdon merasa kembali berada di Westminster Abbey, berdiri di makam Newton yang berbentuk piramida – tempat dia mengalami keadaan yang serupa. Dan malam ini, ilmuwan besar itu kembali ke permukaa. Bukan kebetulan, tentu saja piramida-piramida, misteri-misteri, ilmu pengetahuan, pengetahuan yang tersembunyi, semuanya saling berkaitan, (The Lost Symbol: 485).  Ketika arti teka-teki benda yang pecahkan Robert Langdon terpecahkan ternyata masih ada misteri lainnya dibalik itu semua. Pembaca novelnya “dipaksa” untuk tetap mengikuti alurnya hingga halaman terakhir untuk menguak semua misterinya.
Latar tempat menciptakan kegairahan membaca dengan tidak hanya menyebut nama tempat, tapi juga menjelaskan sejarah tempat tersebut, contohnya seperti: Takdir sesungguhnya Amerika telah hilang dalam sejarah. Para bapak bangsa ibukota ini pertama-tama memberi nama Roma. Mereka memberikan nama sungainya Tiber dan mendirikan ibukota klasik dengan banyak pantheon dan kuil yang kesemuanya dihiasi gambar dewa-dewi yang terkena dalam sejarah – Appolo, Minerva, Venus, Helios, Vulcan, Yupiter. Di tengah-tengahnya, seperti pada banyak kota klasik besar lain, para pendirinya membangun penghormatan kekal bagi para leluhur – Obelisk Mesir. Obelisk ini, yang bahkan lebih besar dari Obelisk Kairo atau Aleandria, menjulang 555 kaki (170 meter) ke angkasa, memiliki lebih dari tiga puluh tingkat, serta menyatakan terimakasih dan penghormatan kepada bapak bangsa setengah dewa yang menjadi nama baru ibukota ini, Washington. (The Lost Symbol: 129) dimana Dan Brown menjelaskan asal mula nama ibukota Amerika Serikat yaitu Washington yang ternyata dulunya ingin dinamakan Roma. Kepintaran Dan Brown lainnya adalah detail dalam penggambaran lokasi dan isi dari lokasi tersebut, ” Atrium yang di dominasi delapan kolom doric dari granit tampak hijau itu tampak seperti makam hibrida dengan patung – patung marmer hitam, mangkuk-mangkuk lampu, salib-salib teutonic, medali-medali phoenix berkepala dua, dan tempat-tempat lilin berhias kepala Hermes (The Lost Symbol: 629).
Penggambaran karakter yang kuat dan memiliki karisma adalah salah satu keunggulan dari The Lost Symbol. Penggambaran karakter “memanusiawikan” penjahatnya seperti, Nunez mengangguk dengan bersemangat, berbuat sebisa mungkin untuk ikut bersandiwara. “Maaf, pak Arsitek menyuruh saya untuk diam saja.” “Aku tidak peduli apa yang dikatakan Arsitek kepadamu,” teriak Anderson. “Tutup mulutmu, Trent.” Bentak Sato. “Kalian berdua pembohong yang payah. Simpan itu untuk penyelidikan CIA terhadapnya nanti.” Dia merampas kunci terowongan Arsitek dari Anderson. (The Lost Symbol: 297).
B.     BUMI MANUSIA
Perjuangan melawan penindasan kolonialisme, keluarga, persahabatan, kemanusiaan, dan nilai religi juga budaya pada masyarakat di zamannya merupakan tema dari novel ini secara garis besar. Perjuangan melawan penindasan kolonialisme terhadap masyarakat Pribumi memang kental terasa. Kolonialisme yang menjadi dominan kerap mengharamkan segala hal berbau Pribumi yang menjadi minoritas di bumi sendiri. Di mana seorang pribumi tanpa nama keluarga bisa dianggap hina; nama keluarga juga bisa menyinggung nilai budaya dari masyarakat Eropa yang saat itu mendiami bumi pertiwi. Dan hal ini bisa dibuktikan pada penggalan berikut:
“Robert Mellema,” ia memperkenalkan diri. “Minke,” balasku. Ia masih juga menjabat tanganku, menunggu aku menyebutkan nama keluargaku. Aku tak punya, maka tak menyebutkan. Ia mengernyit. Aku mengerti; barang kali dianggapnya aku anak yang tidak atau belum diakui ayahnya melalui pengadilan; tanpa nama keluarga adalah Indo hina, sama dengan Pribumi. Dan aku memang Pribumi. (Bumi Manusia: 26) Tema yang diambil diperkuat lagi dengan adanya unsur-unsur pembangunnya seperti:
Alur yang digunakan dalam Bumi Manusia adalah teknik ingatan atau flashback. Teknik ini menempatkan peristiwa yang mana berisi peralihan dari keadaan satu kepada keadaan yang lain yang terjadi di masa lalu ditampilakn dalam suatu rangkaian perisitiwa. Di mana dalam rangkaian tersebut juga memuat alur maju dan mundur yang mana tergantung oleh kondisi si tokoh dalam cerita. “Tigabelas tahun kemudian catatan pendek ini kubacai dan kupelajari kembali, kupadu dengan impian, khayal. Memang menjadi lain dari aslinya. Tak kepalang tanggung. Dan begini kemudian jadinya” (Bumi Manusia: 10)
Dalam novel ini latar yang melandasi suasana yang membawa unsur-unsur pendukung untuk menguatkan cerita. Yakni diantaranya waktu berlalunya kejadian, musim terjadinya, lingkungan agama, sosial, emosional, budaya serta latar fisikal. Yang dimaksud dengan latar fisikal adalah tempat, waktu, dan alam fisik di sekitar tokoh cerita, sedangkan latar sosial adalah penggambaran keadaan massyarakat tertentu, kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada suatu tempat tertentu, pandangan hidup, sikap hidup, adat istiadat, dan sebagainya yang melatari sbeuah peristiwa. Dan hal-hal tersebut bisa dijumpai pada penggalan berikut:
Petir pun takkan begitu mengagetkan. Kegelisahan merambat-rambat ke seluruh tubuh, sampai pada kaki, dan kaki pun jadi salah tingkah.” (Bumi Manusia: 69)
Pramoedya menyatakan watak yang dimiliki oleh tokoh-tokoh dalam novel ini dihantarkan melalui teknik campuran. Di mana membiarkan tokoh itu sendiri untuk menyatakan diri sendiri lewat kata-kata, dan perbuatan mereka sendiri melalui dialog, perbuatan, lukisan fisik, sikap dan sebagainya. Dilihat dari tokoh sebagai seorang sahabat, teman, guru, dan suami bagi Annelies, sosok penyayang dan penyabar melekat pada diri Minke. Dan ini jelas terdapat pada kutipan berikut. “Jantung menggila ini terasa mendadak tak lagi berdenyut mendengar lengking tawa Annelies. Lambat-lambat kunaikkan pandang padanya. Giginya gemerlapan, nampak, lebih indah dari semua mutiara yang tak pernah kulihat. Ahoi, philogynik, dalam keadaan begini pun kau masih sempat mengagumi dan memuja kecantikannya.” (Bumi Manusia: 29)
IV.            MEMBANDINGKAN KEDUA NOVEL
Berdasarkan tema yang telah di paparkan di atas, dapat dilihat dari novel The Lost Symbol yang lebih “kaya” pengetahuan daripada dua buku sebelumnya. Hal ini terlihat dari hal-hal yang Dan Brown ceritakan dalam The Lost Symbol seperti; ilmu Noetic, Simbol kuno, fakta-fakta sejarah tentang amerika serikat, arsitektur di Washington DC hingga persoalan ketuhanan yang berujung pada pluralisme. Dan Brown melakukan perluasan pada isi novelnya dengan memberikan kajian-kajian baru selain arti simbol, meskipun simbol masih menjadi sajian utama novel kelima Dan Brown ini. Dan Brown sukses menambahkan literalur lain dengan kekayaan pengetahuan baru selain simbol selain symbol-simbol kuno dalam novelnya. Dan novel Bumi Manusia yang bertemakan perjuangan melawan penindasan kolonialisme, keluarga, persahabatan, kemanusiaan, dan nilai religi juga budaya pada masyarakat di zamannya merupakan tema dari novel ini secara garis besar. Perjuangan melawan penindasan kolonialisme terhadap masyarakat Pribumi memang kental terasa. Kolonialisme yang menjadi dominan kerap mengharamkan segala hal berbau Pribumi yang menjadi minoritas di bumi sendiri. Di mana seorang pribumi tanpa nama keluarga bisa dianggap hina; nama keluarga juga bisa menyinggung nilai budaya dari masyarakat Eropa yang saat itu mendiami bumi pertiwi.  Kita dapat mengetahui persamaan, perbedaan, dan hubungan keterkaitan. Berikut dipaparkan penjelasan dari persamaan, perbedaan, dan hubungan keterkaitan yang terkandung dalam novel.
a.      Persamaan
Dalam persamaannya, novel The Lost Symbol dan novel Bumi manusia sama-sama dilandasi oleh fakta sejarah yang pernah terjadi di masa lampau. Dimana dalam novel The Lost Symbol menceritakan tentang sejarah di Washington DC yang mengungkap symbol-simbol rahasia perkumpulan kaum Mason dan novel Bumi Manusia menggambarkan tentang sejarah yang terjadi di Indonesia pada zaman awal masuknya pemikiran rasional Hindia Belanda dimana budaya dan peradaban Eropa dieluk – elukkan sedangkan Pribumi hanya dianggap sebelah mata, diremehkan, bahkan ditindas.
b.      Perbedaan
Dalam novel The Lost Symbol dengan Bumi Manusia disini sangat terlihat jelas perbedaannya. The Lost Symbol, sebelumnya akan diberi judul The Solomon Key, merupakan sebuah novel yang ditulis oleh novelis Amerika Serikat, Dan Brown. Novel ini menceritakan tentang teori konspirasi, yang mengambil kisah di Washington DC. Buku ini diterbitkan pada tanggal 15 September 2009.
Dalam novel The Lost Symbol menceritakan tentang fakta sejarah dan imajinasi fiksi. Topik yang diangkat adalah perkumpulan kaum rahasia Mason, yang kental dengan kontroversinya, agenda-agenda rahasianya, serta simbol-simbolnya.
Bumi manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980. Novel ini melingkupi masa kejadian antara tahun 1898 hingga tahun 1918, masa ini adalah masa munculnya pemikiran politik etis dan masa awal periode kebangkitan nasional, masa ini juga menjadi masa awal masuknya pemikiran rasional ke Hindia Belanda, masa awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern yang juga merupakan awal kelahiran demokrasi pola revolusi Prancis. Novel Bumi Manusia berisikan sebuah cerita tentang perlawanan kaum pribumi melawan kolonialisme belanda. Kehidupan di Indonesia dimana budaya dan peradaban Eropa dieluk-elukkan sedangkan Pribumi hanya dianggap sebelah mata, diremehkan, ditindas.
c.       Hubungan Keterkaitan
Dalam novel The Lost Symbol maupun novel Bumi Manusia tidak memiliki pengaruh apapun atau hubungan keterkaitan di antara keduanya. Karena dalam novel The Lost Symbol, Dan Brown tentang melibatkan karakter Robert Langdon, ahli symbol dari Universitas Harvard yang menceritakan teori konspirasi dalam memecahkan simbol-simbol yang membangun Washington DC.
Sedangkan dalam novel Bumi Manusia, Pramoedya mengisahkan tentang adanya ketidakadilan dalam kalangan masyarakan pribumi yang diceritakan melalui tokoh Minke, Annelise, Nyai Ontosoroh, dan lain-lain.
Adapun nilai-nilai sosial yang dapat kita pelajari dari kedua novel tersebut, yakni novel The Lost Symbol dan novel Bumi Manusia, seperti.
a.      Novel The Lost Symbol
The Lost Symbol karya Dan Brown. Novel ini menjelaskan bagaimana cara menjalin persahabatan sejati, guru menjadi pahlawan dalam perubahan zaman, dan peran orang tua dalam menanamkan karakter positif pada anak sejak dini. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel The Lost Symbol mencakup nilai-nilai pendidikan karakter dalam hubungannya dengan Tuhan, nilai-nilai pendidikan karakter dalam hubungannya dengan sesama, nilai-nilai pendidikan karakter dalam hubungannya dengan lingkungan, dan nilai kebangsaan. Novel ini mengajarkan banyak hal yang bisa digunakan sebagai pengubah pola pikir. Pelajaran yang amat berharga yang bisa  diambil adalah bahwa ubahlah perspektif pandangan. jangan memandang segala sesuatunya hanya dari perspektif yang diinginkan, tapi cobalah berbagai sudut. Kenyataan mungkin tidak jauh, hanya cara pandang kita yang menghalangi menemukannya. selain itu, banyak kutipan-kutipan tokoh-tokoh terkenal yang akan menginspirasi, misalnya kenalilah dirimu. Novel ini juga mengajarkan untuk menggali potensi yang ada dalam diri sendiri, karena misteri yang sebenarnya adalah menggunakan semua potensi manusia untuk mencapai sebuah kehidupan yang tercerahkan.
b.      Novel Bumi Manusia
Nilai sosial pada Bumi Manusia bisa berupa hubungan dengan Tuhan: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, manusia harus menjalankan kehidupannya sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Maka mereka bisa dikatakan taat kepada perintah-Nya. Menceritakan tentang perkawinan antara Minke dan Annelies yang sesuai dengan ajaran islam, yaitu adanya saksi dan wali. Hal ini membuktikan bahwa masih ada kepercayaan kepada Tuhan dan melaksanakan ketentuan-ketentuan-Nya. Dan pada kutipan Nyai Ontosoroh yang menjelaskan tentang bagaimana hukum-hukum islam itu dikesampingkan. Minke dan Annelies yang sah perkawinannya menurut islam, sama sekali tidak diakui oleh hukum sidang Eropa.
Dapat bersikap sabar dan tawakal atas cobaan Tuhan, hubungan dengan manusia lain: cinta kasih orang tua pada anak, menceritakan tentang Nyai Ontosoroh yang membela Annelies dalam sidang yang akan memisahkan antara ibu dan anak itu. Nyai Ontosoroh bersikeras mempertahankan anaknya yang akan diambil oleh keluarga Mellema karena termasuk keturunan Mellema. Sikap sopan santun dengan yang lebih tua, menjaga suasana kekeluargaan dan kebersamaan, Minke telah lama tidak bertemu dengan bundanya yang tinggal di kota B. Minke merasa bersalah karena tidak pernah membalas surat dari keluarganya. Kedatangannya ke kota B juga karena ada utusan Ayahnya untuk membawa Minke pulang karena ada acara pelantikan gubernur. Sikap menolong orang lain yang sedang mengalami  kesasuhan, hubungan dengan kemasyarakatan: ketidakadilan, usaha mengembalikan harkat kemanusiaan.
V.            KESIMPULAN
Sebuah karya sastra, fiksi atau puisi, menurut kaum Strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur (pembangunnya). Di satu pihak, struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah (Abrams, 1981:68).
The Lost Symbol, adalah buku ketiga novelis Dan Brown yang melibatkan karakter Robert Langdon, ahli simbol dari Universitas Harvard, setelah Angels & Demons dan The Da Vinci Code. Ketika akhirnya judul resminya diumumkan, The Lost Symbol, disertai tanggal rilisnya pada 15 September 2009, kehebohan lain muncul. Kali ini yang heboh adalah penerbit-penerbit dari seluruh pelosok dunia yang berkompetisi meraih rights buku yang hampir pasti akan menjadi best seller di negara mana pun. Buku ini menceritakan tentang teori konspirasi, yang mengambil kisah di Washington DC. Robert Langdon kembali menguak kode-kode rahasia. Kali ini, Langdon akan membongkar rahasia Freemason. The Lost Symbol lebih “kaya” pengetahuan daripada dua buku sebelumnya. Hal ini terlihat dari hal-hal yang Dan Brown ceritakan dalam The Lost Symbol seperti; ilmu Noetic, Simbol kuno, fakta-fakta sejarah tentang amerika serikat, arsitektur di Washington DC hingga persoalan ketuhanan yang berujung pada pluralisme. Dan Brown melakukan perluasan pada isi novelnya dengan memberikan kajian-kajian baru selain arti simbol, meskipun simbol masih menjadi sajian utama novel kelima Dan Brown ini. Dan Brown sukses menambahkan literalur lain dengan kekayaan pengetahuan baru selain simbol selain symbol-simbol kuno dalam novelnya.
Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980. Bumi Manusia berhasil terjual sebanyak 60.000 eksemplar hanya dalam waktu enam bulan dan Anak dicetak ulang tiga kali dalam waktu enam bulan. Terjadi kehebohan setelah diterbitkannya Bumi Manusia yang kemudian dilarang beredar setahun kemudian atas perintah Jaksa Agung tahun 1981, dengan tuduhan mempropagandakan ajaran-ajaran Marxisme, Leninisme, dan Komunisme. Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang tokoh bernama Minke. Minke adalah salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS. Sebagai seorang pribumi, ia kurang disukai oleh siswa-siswi Eropa lainnya. Minke digambarkan sebagai seorang revolusioner di buku ini. Ia berani melawan ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Ia juga berani memberontak terhadap kebudayaan Jawa, yang membuatnya selalu di bawah. Perjuangan melawan penindasan kolonialisme, keluarga, persahabatan, kemanusiaan, dan nilai religi juga budaya pada masyarakat di zamannya merupakan tema dari novel ini secara garis besar. Perjuangan melawan penindasan kolonialisme terhadap masyarakat Pribumi memang kental terasa. Kolonialisme yang menjadi dominan kerap mengharamkan segala hal berbau Pribumi yang menjadi minoritas di bumi sendiri. Di mana seorang pribumi tanpa nama keluarga bisa dianggap hina; nama keluarga juga bisa menyinggung nilai budaya dari masyarakat Eropa yang saat itu mendiami bumi pertiwi.
Kita dapat mengetahui persamaan novel The Lost Symbol dan novel Bumi manusia sama-sama dilandasi oleh fakta sejarah yang pernah terjadi di masa lampau. Dimana dalam novel The Lost Symbol menceritakan tentang sejarah di Washington DC yang mengungkap symbol-simbol rahasia perkumpulan kaum Mason dan novel Bumi Manusia menggambarkan tentang sejarah yang terjadi di Indonesia pada zaman awal masuknya pemikiran rasional Hindia Belanda dimana budaya dan peradaban Eropa dieluk – elukkan sedangkan Pribumi hanya dianggap sebelah mata, diremehkan, bahkan ditindas.
Dalam novel The Lost Symbol dengan Bumi Manusia disini sangat terlihat jelas perbedaannya. The Lost Symbol, sebelumnya akan diberi judul The Solomon Key, merupakan sebuah novel yang ditulis oleh novelis Amerika Serikat, Dan Brown. Novel ini menceritakan tentang teori konspirasi, yang mengambil kisah di Washington DC. Buku ini diterbitkan pada tanggal 15 September 2009. Bumi manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980. Novel ini melingkupi masa kejadian antara tahun 1898 hingga tahun 1918, masa ini adalah masa munculnya pemikiran politik etis dan masa awal periode kebangkitan nasional, masa ini juga menjadi masa awal masuknya pemikiran rasional ke Hindia Belanda, masa awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern yang juga merupakan awal kelahiran demokrasi pola revolusi Prancis.
Dalam novel The Lost Symbol maupun novel Bumi Manusia tidak memiliki pengaruh apapun atau hubungan keterkaitan di antara keduanya. Karena dalam novel The Lost Symbol, Dan Brown tentang melibatkan karakter Robert Langdon, ahli symbol dari Universitas Harvard yang menceritakan teori konspirasi dalam memecahkan simbol-simbol yang membangun Washington DC.
Sedangkan dalam novel Bumi Manusia, Pramoedya mengisahkan tentang adanya ketidakadilan dalam kalangan masyarakan pribumi yang diceritakan melalui tokoh Minke, Annelise, Nyai Ontosoroh, dan lain-lain.
The Lost Symbol karya Dan Brown. Novel ini menjelaskan bagaimana cara menjalin persahabatan sejati, guru menjadi pahlawan dalam perubahan zaman, dan peran orang tua dalam menanamkan karakter positif pada anak sejak dini. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel The Lost Symbol mencakup nilai-nilai pendidikan karakter dalam hubungannya dengan Tuhan, nilai-nilai pendidikan karakter dalam hubungannya dengan sesama, nilai-nilai pendidikan karakter dalam hubungannya dengan lingkungan, dan nilai kebangsaan.
Nilai sosial pada Bumi Manusia bisa berupa hubungan dengan Tuhan: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dapat bersikap sabar dan tawakal atas cobaan Tuhan. hubungan dengan manusia lain: cinta kasih orang tua pada anak, sikap sopan santun dengan yang lebih tua, menjaga suasana kekeluargaan dan kebersamaan, menolong orang lain yang sedang mengalami  kesasuhan. Hubungan dengan kemasyarakatan: ketidakadilan, usaha mengembalikan harkat kemanusiaan.










DAFTAR PUSTAKA
        
Brown, Dan. 2010. The Lost Symbol. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Toer, Pramoedya Ananta. 2005. Bumi Manusia. Jakarta: Lentera Dipantara.
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Theori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar