Nama : Sofiya Laras Kenanga
NIM : E1C115078
Semua demi masa depanmu, nak!
Pada suatu sore yang masih sedikit basah sisa-sisa
hujan tadi siang.
September 2010
Di lapangan yang tidak terlalu luas.
Iya, hari ini memang merupakan hari dimana para
santriwati baru diantarkan oleh keluarganya untuk belajar di pondok pesantren.
Hari ini, lapangan dipenuhi dengan berbagai macam
kendaraan. Mulai dari sepeda motor, mobil mewah, bahkan sampai mobil umum
terparkir disana.
Dari berbagai macam alamat. Para santriwati baru
satu persatu berdatangan diantar oleh keluarga masing-masing.
Ada yang menampakkan keceriaan, ada yang tertawa
bahagia, dan tak sedikit pula santriwati yang menampakkan wajah murung
Tampak dari kejauhan, mobil xenia dengan plat merah baru saja datang.
Gadis berjilbab merah muda dengan gamis warna abu
gelap yang bertubuh tinggi semampai itu tampak menunduk menampakkan wajah terpaksa
turun dari mobil ayahnya.
Ibu dan ayahnya pun ikut turun menggandengnya.
Sepertinya, ia memang belum siap untuk berpisah dari
keluarganya
Sangat nampak raut wajah sedih itu.
Ibunya menuntunnya menuju aula pondok, sebut saja
sebagai ruang tamu disana
Mereka pun duduk,
"Kau harus kuat sayang, kau harus belajar
mandiri" kata sang ibu dengan lembut mengusap kepala anaknya.
Gadis itu hanya menundukkan kepala tak menghiraukan
"Ayolah nak, kau kan anak pintar" kata
sang ayah meyakini.
“Coba
lihat, di sini banyak orang dan kau akan memiliki banyak sekali teman. Meskipun
ibu dan ayah tidak bersamamu di sini, akan ada ustad dan ustadzah yang akan
membantu dan membimbingmu belajar nanti”sang
ibu memandangnya dengan hangat.
“Ayah
dan ibu juga akan menjengukmu setiap hari jumat sayang.”
Percakapan mereka terus berlanjut, kedua orang tuanya
terus meyakinkan, namun gadis itu masih saja membisu memberikan penolakan .
Hari semakin senja, bahkan sudah mulai gelap dan
mereka masih duduk di sana.
Kriiiiiiinngggg…!!! Terdengar bel satu kali berbunyi
lantang.
Iya,
bel yang baru saja terdengar itu memang merupakan sebuah peringatan kepada para
santriwati menandakan kalau sudah waktunya bersiap-siap untuk shalat magrib.
Sambil dipegang
pundaknya dengan halus, ibunya semakin mendekati tempat duduknya “Ayo nak, lihat
teman-temanmu sudah akan bersiap-siap untuk ke masjid untuk shalat berjamaah.
Kau juga harus semangat yaa. Di sini kau datang untuk menuntut ilmu sayang.”
Wajahnya mulai memerah dan matanya mulai
berkaca-kaca. “Baiklah,
aku akan pergi shalat.” Gadis itu kemudian melangkah meninggalkan aula dan
bergegas untuk mengambil air wudhu.
Sementara gadis itu
sedang bersiap-siap untuk shalat, ayah dan ibunya pergi memindahkan
barang-barangnya ke kamarnya, lalu sang ibu pun merapikan pakaiannya dan
menaruhnya di lemarinya yang memang sudah disiapkan dari pihak pondok
pesantren.
Tak lupa untuk
menunaikan ibadah shalat magrib, mereka (ayah dan ibu) juga bergegas pergi ke
masjid, sehingga nanti jika gadis itu sudah selesai shalat berjamaah dia tidak
akan menunggu terlalu lama.
Jarak tiga sab, gadis
itu terlihat mengenakan mukena berwarna krem dengan bordir bunga-bunga. Tergambar
wajah murung dan sedih sambil menengadahkan kedua tangannya saat berdoa.
Memang menjadi suatu
kebiasaan bagi para santriwati untuk membaca Syair Abu Nawas setelah shalat.
Namun, yang membuatnya jadi tak biasa adalah linangan air mata itu. Mendengar
lantunan syair yang indah mendayu itu membuat air mata membasahi pipinya.
Ia tak kuasa
menahannya. Ia teringat kalau hari ini ia akan berpisah dengan keluarganya.
Namun, tak ingin terlihat cengeng, ia mengusap air mata yang terus mengalir itu
dengan mukenanya.
Setelah beberapa menit
detik jam berputar, bacaan lantunan
syair itu terhenti. Satu persatu para santriwati keluar dari masjid.
Matanya terlihat
sembap, ia keluar masjid dengan mata agak bengkak. Ia berjalan menuju aula
dimana orang tuanya sudah menunggunya di sana.
Ia duduk di sebelah ibunya.
“Kenapa
matamu sembab nak?”
Ia hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepala sambil menunduk.
“Tenang
nak, minggu depan kami akan datang menjengukmu.” Kata sang ayah. “Iya sayang, kau pasti akan betah di sini. Lama-lama
kau akan terbiasa jika kau sudah tau bagaimana indahnya kehidupan di pesantren.
Ini semua demi kebaikanmu sayang, jika kita menjalaninya dengan rasa ikhlas dan
sabar, pasti kau akan mampu melewatinya dengan mendapatkan buah manis yang
menantimu di depan sana.”
Hari sudah semakin
gelap, kendaraan yang tadi tak terhitung jumlahnya sudah mulai berkurang meninggalkan
pondok satu persatu. Begitu pun dengan mereka (ayah dan ibu gadis itu) sudah
saatnya untuk kembali pulang.
“Jangan
lupa makan teratur yaa nak, patuh-patuh di sini sayang.” Sang ibu memegang tangannya dengan lembut.
“Baik-baik
di sini nak, jangan terlalu lama bersedih yaa.” Kata ayah menenangkan hatinya.
Gadis itu pun perlahan
mengangkat kepala dan menegakkan bahunya, ia mencoba menghadapinya dan
menegarkan dirinya agar hati kedua orang tuanya ikut tenang.
Sambil menghela nafas,
ia berkata “Iya
yah, bu, kalian pulanglah. Insya Allah aku akan bisa menyesuaikan diri di
sini.” Ia tersenyum manis. Sepasang mata itu terlihat berbinar.
Melihat senyuman itu
ayah dan ibunya merasa lega, mereka tak berat hati lagi untuk meninggalkannya.
“Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu yaa sayang.” Ucap ibunya.
Gadis itu bergiliran
menyalami ayah dan ibunya. “Betah-betah di sini yaa nak, kami pulang dulu.”
Kata ayah sambil mengusap kepala anaknya.
Gadis itu ikut
mengantarkan kedua orang tuanya hingga naik ke dalam mobil. Jendela mobil pun
perlahan terbuka lalu ayahnya melambaikan tangannya.
Ia juga melambaikan
tangannya sambil memberikan senyuman yang ikut mengantarkan kepulangan kedua
orang tuanya hingga mobil itu keluar dari gerbang.
Gadis itu pun berjalan
kembali menuju ke kamarnya dengan senyuman yang terpancar di wajahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar