Selasa, 09 Januari 2018

Jurnalisme Sastrawi



Nama              :           Sofiya Laras Kenanga
NIM                :           E1C115078

Semua demi masa depanmu, nak!

Pada suatu sore yang masih sedikit basah sisa-sisa hujan tadi siang.
September 2010
Di lapangan yang tidak terlalu luas.
Iya, hari ini memang merupakan hari dimana para santriwati baru diantarkan oleh keluarganya untuk belajar di pondok pesantren.
Hari ini, lapangan dipenuhi dengan berbagai macam kendaraan. Mulai dari sepeda motor, mobil mewah, bahkan sampai mobil umum terparkir disana.
Dari berbagai macam alamat. Para santriwati baru satu persatu berdatangan diantar oleh keluarga masing-masing.
Ada yang menampakkan keceriaan, ada yang tertawa bahagia, dan tak sedikit pula santriwati yang menampakkan wajah murung
Tampak dari kejauhan,  mobil xenia dengan plat merah baru saja datang.
Gadis berjilbab merah muda dengan gamis warna abu gelap yang bertubuh tinggi semampai itu tampak menunduk menampakkan wajah terpaksa turun dari mobil ayahnya.
Ibu dan ayahnya pun ikut turun menggandengnya.
Sepertinya, ia memang belum siap untuk berpisah dari keluarganya
Sangat nampak raut wajah sedih itu.
Ibunya menuntunnya menuju aula pondok, sebut saja sebagai ruang tamu disana
Mereka pun duduk,
"Kau harus kuat sayang, kau harus belajar mandiri" kata sang ibu dengan lembut mengusap kepala anaknya.
Gadis itu hanya menundukkan kepala tak menghiraukan
"Ayolah nak, kau kan anak pintar" kata sang ayah meyakini.
“Coba lihat, di sini banyak orang dan kau akan memiliki banyak sekali teman. Meskipun ibu dan ayah tidak bersamamu di sini, akan ada ustad dan ustadzah yang akan membantu dan membimbingmu belajar nantisang ibu memandangnya dengan hangat.
Ayah dan ibu juga akan menjengukmu setiap hari jumat sayang.
Percakapan mereka terus berlanjut, kedua orang tuanya terus meyakinkan, namun gadis itu masih saja membisu memberikan penolakan .
Hari semakin senja, bahkan sudah mulai gelap dan mereka masih duduk di sana.
Kriiiiiiinngggg…!!! Terdengar bel satu kali berbunyi lantang.
Iya, bel yang baru saja terdengar itu memang merupakan sebuah peringatan kepada para santriwati menandakan kalau sudah waktunya bersiap-siap untuk shalat magrib.
Sambil dipegang pundaknya dengan halus, ibunya semakin mendekati tempat duduknya Ayo nak, lihat teman-temanmu sudah akan bersiap-siap untuk ke masjid untuk shalat berjamaah. Kau juga harus semangat yaa. Di sini kau datang untuk menuntut ilmu sayang.
 Wajahnya mulai memerah dan matanya mulai berkaca-kaca. Baiklah, aku akan pergi shalat. Gadis itu kemudian melangkah meninggalkan aula dan bergegas untuk mengambil air wudhu.
Sementara gadis itu sedang bersiap-siap untuk shalat, ayah dan ibunya pergi memindahkan barang-barangnya ke kamarnya, lalu sang ibu pun merapikan pakaiannya dan menaruhnya di lemarinya yang memang sudah disiapkan dari pihak pondok pesantren.
Tak lupa untuk menunaikan ibadah shalat magrib, mereka (ayah dan ibu) juga bergegas pergi ke masjid, sehingga nanti jika gadis itu sudah selesai shalat berjamaah dia tidak akan menunggu terlalu lama.
Jarak tiga sab, gadis itu terlihat mengenakan mukena berwarna krem dengan bordir bunga-bunga. Tergambar wajah murung dan sedih sambil menengadahkan kedua tangannya saat berdoa.
Memang menjadi suatu kebiasaan bagi para santriwati untuk membaca Syair Abu Nawas setelah shalat. Namun, yang membuatnya jadi tak biasa adalah linangan air mata itu. Mendengar lantunan syair yang indah mendayu itu membuat air mata membasahi pipinya. 
Ia tak kuasa menahannya. Ia teringat kalau hari ini ia akan berpisah dengan keluarganya. Namun, tak ingin terlihat cengeng, ia mengusap air mata yang terus mengalir itu dengan mukenanya.
Setelah beberapa menit detik  jam berputar, bacaan lantunan syair itu terhenti. Satu persatu para santriwati keluar dari masjid.
Matanya terlihat sembap, ia keluar masjid dengan mata agak bengkak. Ia berjalan menuju aula dimana orang tuanya sudah menunggunya di sana.
Ia duduk di sebelah ibunya. Kenapa matamu sembab nak? Ia hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepala sambil menunduk.
Tenang nak, minggu depan kami akan datang menjengukmu. Kata sang ayah. Iya sayang, kau pasti akan betah di sini. Lama-lama kau akan terbiasa jika kau sudah tau bagaimana indahnya kehidupan di pesantren. Ini semua demi kebaikanmu sayang, jika kita menjalaninya dengan rasa ikhlas dan sabar, pasti kau akan mampu melewatinya dengan mendapatkan buah manis yang menantimu di depan sana.
Hari sudah semakin gelap, kendaraan yang tadi tak terhitung jumlahnya sudah mulai berkurang meninggalkan pondok satu persatu. Begitu pun dengan mereka (ayah dan ibu gadis itu) sudah saatnya untuk kembali pulang.
Jangan lupa makan teratur yaa nak, patuh-patuh di sini sayang. Sang ibu memegang tangannya dengan lembut.
Baik-baik di sini nak, jangan terlalu lama bersedih yaa. Kata ayah menenangkan hatinya.
Gadis itu pun perlahan mengangkat kepala dan menegakkan bahunya, ia mencoba menghadapinya dan menegarkan dirinya agar hati kedua orang tuanya ikut tenang.
Sambil menghela nafas, ia berkata Iya yah, bu, kalian pulanglah. Insya Allah aku akan bisa menyesuaikan diri di sini.” Ia tersenyum manis. Sepasang mata itu terlihat berbinar.
Melihat senyuman itu ayah dan ibunya merasa lega, mereka tak berat hati lagi untuk meninggalkannya. “Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu yaa sayang.” Ucap ibunya.
Gadis itu bergiliran menyalami ayah dan ibunya. “Betah-betah di sini yaa nak, kami pulang dulu.” Kata ayah sambil mengusap kepala anaknya.
Gadis itu ikut mengantarkan kedua orang tuanya hingga naik ke dalam mobil. Jendela mobil pun perlahan terbuka lalu ayahnya melambaikan tangannya.
Ia juga melambaikan tangannya sambil memberikan senyuman yang ikut mengantarkan kepulangan kedua orang tuanya hingga mobil itu keluar dari gerbang.
Gadis itu pun berjalan kembali menuju ke kamarnya dengan senyuman yang terpancar di wajahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar